Journey to The West Flores, #1

“Guys, nanti sore jam 16.00 kita ketemu di WS Jakal ya untuk sharing foto.. See you there ^ ^” SMS Mbak Rizka pada minggu (30/1) pagi.

Ahaha, saya kemarin habis melakukan perjalanan panjang ke wilayah timur nusantara. Bersama Mbak Rizka, Mas Wayan, Mbak Arni, Mbak Lery, Mas Dedi, Mas Corry, Vina, Vini, dan Basari, kami menempuh perjalanan selama 3 hari untuk mencapai ujung barat P. Flores yang ada di NTT. Keren euy, banyak hal-hal seru selama di perjalan. Oya, kali ini saya akan menulis cerita perjalanan saya menjadi 3 tulisan. Tulisan pertama (yang ini), berkisah seputar perjalanan ke Labuan Bajo (Flores), lalu yang kedua akan berkisar tentang apa saja yang saya lakukan di sana, dan yang ketiga adalah ketika saya di Bali. Lets Cekidot 😀

Yeah, perjalanan diawali dari penawaran Mbak Rizka untuk trip ke Komodo. Sebuah tawaran yang menggiurkan hahha. Berbagai cara saya tempuh agar bisa dapat pergi ke sana. Mulai dari nabung, hutang, sampai ngirit biaya beli minum saat makan (Rp 1500 tiap minum). Dan akhirnya dapat rejeki nomplok dari Kopma UGM, hahha asik akhirnya duwit sudah  tidak jadi masalah.

Sebelum berangkat, rombongan yang dari Jogja melakukakan 2 kali rapat koordinasi terkait perjalanan kami. Kami pun sempat ciut nyali karena ada info bahwa laut Indonesia Timur sedang bergejolak, tapi akhirnya kami tetap berangkat dengan beberapa rencana cadangan. Kemudian sampailah kami pada hari H. Hari dimana angin berhembus sepoi2 dan kereta Sri Tanjung sedang dipanasi masinisnya :ngakaks. Hari itu (21/1), jam 05.30 saya berangkat dari rumah dan langsung mampir ke rumah Noorman sang pujangga untuk nitip laptop dan minta tolong diantarkan ke Stasiun Lempuyangan, tapi sebelum ke rumah Noorman sempat mampir di Burjo dulu ding untuk sarapan :Yb.

Ngeengg… Sampai di Lempunyan saya di sambut oleh senyum kedua orang tak dikenal (Vina dan Vini). Saat itu yang ada baru Mbak Lery, Basari, dan dua orang tak dikenal tadi :Yb. Tak berselang lama yang lain pun datang dengan backpack masing2 dan kami langsung masuk badan Mbak Sri yang masih di parkir lurus oleh pak masinis.

“ting tong teng tong.. do tek plenting,” Yeiy! Akhirnya Mbak Sri mulai menggeliat. Formasi di kereta adalah sebagai berikut: Saya duduk bareng Basari dan Mas Wayan (kami berusaha keras mempertahankan teritori dengan duduk sedemikian rupa); Mas Dedi bareng Mas Corry; Vina bareng Vini; serta Mbak Rizka bareng Mbak Arni dan Mbak Lery. Di sepanjang perjalanan yang terjal :hammers kami ditemani oleh para penjual yang mondar mandir menawarkan barang dagangannya. Ada yang jual korek gas, nasi, kacang, buah, dan lain-lain. Dan ternyata e ternyata, Mbak Arni suka sekali jajan.. hahaha asik banget bisa dapat travelmate yang suka jajan, saya  bisa ikut kecipratan :Yb. Ada hal yang lucu di sini, sejak berangkat dari Jogja Basari tidur terus.. usut punya usut ternyata dia sedang masa penyembuhan karena giginya habis dicabut. Lalu ketika Mbak Arni beli stroberi, Mbak Arni digodain bapak penjualnya.. :ngakaks “Dulu pas muda, saya itu sering direbutin cewek2,” Kata bapaknya. “Eh iya pak?” Celetuk Mbak Arni. Bapaknya pun membalas, “Iya, nanti kalo ada apa2 mbak ES ME SES SES saya saja” :ngakaks kami pun tertawa mendengar percakapan mereka :ngakaks

Oya masih ada lagi, pas rambut Vini yang selembut sutera itu mengenai wajah Mas Wayan. Jadi posisi duduk mereka itu bertolak punggung, nah Vini entah ngapain tau2 rambutnya ngenai wajah Mas Wayan, “Mbak..Mbak.. awas rambutnya,” celetuk Mas wayan :ngakaks.

Yap! Pukul 23.00 WIB sampailah kami di Banyuwangi, kota paling ujung Pulau Jawa. Keluar dari kereta rasanya FREE! FEEL FREE kalau kata Mbak Arni. Namun perjalanan masih panjang, kami masih harus menyeberangi beberapa selat dan melewati beberapa pulau untuk sampai di Flores. Di luar stasiun kami mampir sejenak di warung si Domar untuk membeli perbekalan. Sampai di Pelabuhan Ketapang (dari stasiun ke pelabuhan cukup dengan jalan kaki), kami langsung beli tiket dan langsung naik ferry. Di atas ferry, beberapa orang dari tim langsung menyantap bekal yang dibeli di Banyuwangi tadi.

di Ketapang

Sekitar tiga puluh menit berselang, mendaratlah kami di Gilimanuk, Bali. Turun dari kapal kami langsung cari bis yang ke Pelauhan Padang Bai. Tak usah susah-susah mencari kami langsung dapat bis ke Padang Bai, dan cukup bayar 40K saja, harga yang pas dan normal. Oya untuk sampai ke Gilimanuk kami hanya habis 41K (35K kereta dan 6K feri). Sekitar pukul 8.00 WITA (CMIIW) kami sampai di Padang Bai. Turun bis, Mbak Rizka berinisiatif untuk iseng2 cari bis untuk ke Bima. Akhirnya deal! kami dapat bis sampai Sape (ujung timur NTT) dengan biaya 300K (dengan penawaran alot). Harga segitu sudah termasuk makan dua kali (makan siang di Lombok dan malam di Sumbawa).

Langsung Indah

Perjalanan Padang Bai-Sape

Dari Padang Bai ke Lombok, kami harus menyeberang dengan feri. Selama di perjalanan laut itu, saya habiskan dengan bercengkerama bersama Mbak Rizka di lambung kiri kapal (sebut saja lambung kiri :Yb). Ngobrol ngalur ngidul, ngetan ngulon.. datanglah Vina, “eh.. kalian kok mirip? kakak adik ya?” :ngakaks. Apakah benar? Saya mirip Mbak Rizka? Who knows? 😀

Ternyata di tengah laut juga ada sampah. Mungkin sampah dari kapal yang lewat ya? Banyak sekali lho.. Apakah ini yang dinamakan cinta laut? Memberi makan ikan laut dengan sampah kita. Kalau memberi makan kucing sih masih bisa.. tapi masa ikan laut disamakan dengan kucing? :ngakaks

Laut lombok sangat amazing kawan, hijau gimana gitu hahha. Bahkan pulau2 yang terlihat sepanjang perjalana itu pun pasirnya putih2.. ajiibb. Mendarat di Lombok, kami langsung cabuts ke Mataram untuk makan siang (CMIIW). Dengan nasi sepiring yang dikit dan lauk ayam kecil dan ada sayurnya dikit serta muka masam penjualnya kami pun makan dengan lahap dan cepat (porsi mini sih :p)

Selepas makan siang, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan untuk menyeberang ke P. Sumbawa (agak lupa CMIIW). Di tengah perjalanan ada mas2 yang tiba2 kejang2. Usut punya usut sepertinya dia kena epilepsi, karena duduknya dengan dengan Mas Corry, dia pun dengan sigap menolong ibu2 yang panik, eh maksud saya menolong si mas2 tadi. Ibu yang panik itu adalah ibunya yang duduk di sebelah mas2 tadi. Dibantu bapak2 serdadu, akhirnya si mas2 yang kejang2 tadi dapat tenang kembali dan bisa tidur dengan pulas bersama saya (lho?) :ngakaks

Sampai di Sumbawa, bis membawa kami ke sebuah restoran :hammers yang tim menyebutnya “The Biggest Resto”. Berbeda dengan makan di Lombok, hidangan kali ini adalah nasi + telur ceplok + mie + kuah + air putih, dan nasinya bisa ambil dengan porsi sedang, sedang lapar :ngakaks. Di sana ada rombongan tim yang agak mabok, sebut saja Mbak Arni dan Mbak Lery. Memang jalan yang kami tempuh sangat berkelok, ditambah lagi Mbak Arni duduk di atas bagasi yang menyimpan duren, Mbak Arni memang ga suka duren makanya dia sampai mabok. Mas Wayan, seorang lulusan Sarjana Kedokteran UGM pun sigap menangani hal itu. Dia langsung menghidangkan teh panas plus-plus untuk Mbak Arni, plus semut hehhe. Tehnya ada semutnya :p

Selesai makan, rombongan pun dioprek-oprek awak bis agar segera berangkat. Namun ada lagi kejadian, Basari malah BAB dulu :hammers. Berbekal teriakan dan ketukan maut, saya memaksa Basari untuk segera beranjak dari WC, karena memang bis sudah mau take off.  (Lebay :Yb)

Beberapa saat kemudian (padahal lama banget), bis Langsung Indah pun terpaksa berhenti karena mogok. Entah kenapa saya ga tau persisnya, mendengar sekelumit kisah awak bis sih katanya kehabisan bahan bakar, ada juga yang bilang accu-nya habis. Whatever lah yang penting bisa jalan lagi.

Akhirnya sampailah kami di Terminal kecil untuk berpindah bis kecil yang mengantar kami di Sape. Oya, sampai di Terminal itu, kami langsung disambut komentar dari orang2 di sana, “Waduh! ceweknya gede2” :ngakaks. Sebagian dari rombongan kami memang berbadan bongsor :Yb. Bersama para penumpang Bis Langsung Indah yang lain dan beberapa penduduk lokal, kami diantar sampai ke pelabuhan Sape. Oya di tengah jalan saya sempat request kepada mas2 kondektur untuk berhenti sejenak karena saya ingin vivis :p. “Mas2, boleh berhenti bentar ga? saya mau vivis,” Request saya ke mas2 kondektur. “Ya, sebentar,” Jawabnya. Akhirnya lega..

Asyik sekali ketika sampai di Sape  (09.00 WITA) kami langsung disambut oleh penual warung yang ternyata orang jawa. Dan dia memberi pengumuman pada  kami bahwa feri ke Labuan Bajo (West Flores) akan berangkat pukul 16.00 WITA. Yah.. Ikhlas tidak ikhlas kami harus menunggu sampai jam 16.00 WITA (padahal kapal berangkat pukul 14.00 WITA). Waktu menunggu kami habiskan dengan berbagai macam cara. Basari langsung nongkrong di depan tivi menonton Dragon Ball. Mbak Arni mengomandoi untuk beli mie rebus. Mas Corry jalan2 sekitar Sape. Mas Dedi mandi kayaknya.

Truk2 di Sape

Ada mainan baru yang saya temui di sini, namanya Tepok Nyamuk hahha. Anda harus rela mendapati tangan Anda sakit karena ditepok pemain lain :p. Cara mainnya? hubungi Mas Wayan saja, dia ahlinya :Yb. Tak terasa sudah pukul 14.00, kami langsung beranjak ke Kapal dengan diiringi nada kresek2 gerimis yang jatuh di jas hujan Mas Wayan yang fasionabel :ngakaks

Sape-Labuan Bajo

Kali ini kami harus melawan kebosanan dalam perjalanan 10 jam di laut. Mas Corry langsung mendapat teman ngobrol baru, beberapa orang turis asing yang salah satunya disebut Fabregas oleh Vini. Mas Dedi sibuk foto2 dengan kameranya. Mas Wayan dan Mbak Rizka ngobrol sana-sini sampai akhirnya Mas Wayan mendongeng tentang Mahabarata. Basari pun mandi di kapal lagi. Ya, basari ini memang seneng banget mandi di kapal, katanya sih selain gratis airnya juga banyak :ngakaks.

Palabuhan Sape

Semakin bosan dan bosan.. Main tepok nyamuk pun kami lakukan lagi. Baru putaran pertama kami langsung diteriaki sama orang sekapal. “WOY!” hahaha kami main terlalu berisik (sangat berisik malah) :Yb. Kemudian Mas Wayan berteriak, “Lumba-lumba..” Orang sekapal langsung tertarik melihat. Apalagi para turis, wah wah wah langsung semangat melihat hahha. Sekitar pukul 22.00 kami pun mendarat di Labuan Bajo. Sebelum mendarat kami sempat disuguhi oleh pemdangan apik dari lampu-lampu rumah di sekitar pelabuhan yang memang terlihat sangat indah. So Amazing! :matabelo.

Di Kapal ke Labuhan Bajo

Di Labuan Bajo, feri kami langsung dipanjati oleh penduduk lokal. Mereka menawarkan sesuatu yang sangat asing bagi kami. “Puerte? Puerte? Ruteng? Ruteng?” Begitu tawar mereka. Saya dan Basari hanya mampu geleng2 kepala menolak ajakan mereka. Untung di kapal, Mas Corry menemukan seorang lokal yang bisa mengantarkan kami untuk mencari penginapan. Dia kami namakan Mas Gonzales 😀

Yak! itu dulu cerita part satu ini, besok banget  saya sambung lagi. Oya, maaf kalau ceritanya ada yang salah, saya lupa kejadian persisnya :Yb Dari Perjalanan ke Labuan Bajo, saya bisa membuktikan bahwa Indonesia sangaaaatt luas :iloveindonesia

Babay :travel

Thanks to Mas Wayan, kau menginspirasiku untuk menulis cerita ini 🙂

5 thoughts on “Journey to The West Flores, #1

  1. nice story!
    btw mbak, ferry dari sape ke labuan bajo itu jadwalnya selalu jam 14 WITA saja ya?
    saya pernah baca di satu web, ferry dr sape ke labuan bajo itu jam 8 pagi.
    boleh minta infonya? trims.

    Annisa

    1. iya seingat saya dulu itu ada jadwal yang jam 8. Karena rombongan sampai di Sape telat (jam 10an kyknya). Jadi kami mau tidak mau harus naik yang jam 14.00

      betewe saya bukan mbak, hehe

      Salam ransel,
      Manu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s