Journey to The West Flores, #2

Yak! Sesuai yang saya katakan kemarin bahwa cerita ke Flores akan saya buat jadi 3 bagian. Nah, sampailah kita pada bagian kedua. Di sini saya akan menceritakan tentang apa saja yang kami lakukan di Labuan Bajo dan sekitarnya.

Meneruskan cerita saya kemarin.. Jadi setelah sampai di penginapan yang direstui oleh ibu (namanya Restu Bundo), Adalah bukti bahwa orang Padang ada dimana-mana :Yb. Mbak Rizka dan Mas Corry langsung bernegosiasi dengan si Mama. Akhirnya deal kami jadi menginap di sana dengan formasi 5-5. 5 orang cowok di kamar kanan, 5 orang cewek di kamar kiri (sebut saja begitu). Karena perut lapar, kami memutuskan untuk ‘caem’, cari maem. Akhirnya mampirlah kami di sebuah warung nasi goreng. Dengan cukup membayar 10K kami sudah bisa menikmati sepiring nasi goreng yang sambalnya terpisah. Ada catatan menarik dari Mbak Arni, bahwa rasa cabe di NTT sangaatt pedas. Dan ternyata memang benar, baru mencoba setetes sambal saja lidah sudah terasa terbakar, :hammers.

 

Wadah Orange Itu Isinya Sambal

Sambil makan, sambil ngobrol, dan sambil cari info untuk ke P. Komodo. Kemudian sampailah kami pada penawaran seseorang yang punya kapal. Namun, di sini saya tidak tahu kronologisnya karena setelah makan hanya Mbak Rizka dan Mas Wayan saja yang bernegosiasi. SIsanya kembali ke penginapan. Tak selang berapa lama Mbak Rizka dan Mas Wayan kembali ke penginapan dengan membawa kabar baik, tapi untuk si empunya kapal tadi. Singkat cerita harga kapal yang ditawarkan sangatlah mahal, sekitar 5.000K kalau ga salah. Yah.. bisa-bisa ga bisa balik Jogja kalau kami jadi pakai kapal itu :ngakaks. Diputuskan untuk mencari kapal besok pagi.

Senin, 24 Januari 2011

Pagi itu saya, Mas Dedi, Mas Wayan, dan Mbak Rizka pergi ke dermaga untuk mencari kapal. Akhirnya ketemulah kami dengan Pak …… (lupa namanya, hahha tidak usah disebut). Bapak tadi enggan menyebutkan harga untuk kami, alasannya karena sesama Indonesia :iloveindonesias. Mas Dedi yang menjadi negosiator kala itu sampai bingung mau minta harga. Akhirnya deal, kami berangkat ke P. Komodo dengan harga 1.200K tanpa makan siang.

 

Di Dermaga

Setelah bersiap2, saya membeli bekal nasi, Mas Wayan nyewa alat senorkling, kami pun berkumpul ke dermaga. Lagi2 ada masalah, si Bapak menyampaikan kepada kami bahwa sudah terlalu siang untuk berangkat ke P. Komodo. Saat itu pukul 09.00 WITA. Seharusnya kalau mau ke P. Komodo, kami harus berangkat pukul 06.00 karena jika sudah siang arus laut sangat kuat, terlalu berbahaya untuk mengarunginya. Diputuskan kami berangkat ke P. Rinca saja, P. Rinca juga salah satu hunian komodo.

“Tok oto tok tokto ngrung grung…,” berlayarlah kami ke P. Rinca. Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh pemandangan yang sangat elok. Pulau-pulau yang kami lewati sangat eksotis, ingin rasanya punya satu pulau di sana hahaha. Ternyata perjalanannya cukup jauh, sekitar 2.5 jam. Saya dan Basari pun sempat tidur sejenak menghilangkan bosan di kapal. Yang lain sibuk foto sana foto sini. Mas Corry malah berjemur di atas kapal, serasa bule euy :sun:. Walaupun tidur saya pun ikut berfoto lho.. :hammers.

Loh Buaya, itulah nama teluk yang kmi darati di P. Rinca. Sekedar info, Loh berarti teluk, dan Buaya berarti buaya. Kata Mas Arif, sang ranger, di Loh Buaya juga ada buayanya. Dalam perjalanan menuju sekretariat P. Rinca, kami kembali disuguhi pemandangan yang eksotis. Terbentang luas rawa yang terkesan angker kalau kata Basari. Dan kami juga bertemu Komodo yang sedang berteduh di bawah pohon.. wow!

 

Loh Buaya

Setelah merapikan administrasi dan berfoto sejenak dengan bapak2 resepsionis, kami di-brifing dulu oleh Mas Arif. “Yak, selamat datang di Loh Komodo. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Jangan berteriak, jangan membuang sampah, jangan lari kalau ada komodo karena bisa dikejar, dan.. kalau ada yang sedang satang bulan hati2, penciuman komodo bisa sampai 5Km.” WOW! Sebegitu seramkah Komodo The Dragon? Padahal saat itu ada salah satu dari tim yang sedang kedatangan tamu,  :hammers .

Mas Arif mengatakan bahwa kami akan bertemu sekitar 7 komodo di dapur. Dan benar saja, kami bertemu 7 komodo itu. Saat itu mereka sedang santai2 saja di sana. Komodo suka bertengger di sana karena mereka membau makanan dari dapur. Jadilah kami foto2 di sana. Komodo memang terlihat santai dan malas, tapi sebenarnya mereka sangat agresif. Itu hanya kamuflase saja, tipu2, mereka bisa kapan saja menyerang kami kalau mendeteksi gerakan2 mencurigakan. Terbukti ketika ada seseorang di dapur yang melemparkan sesuatu, para komodo itu langsung dalam kondisi siaga, WOW! :takuts.

 

Komodo Bertengger di Dapur

Trekking yang kami ambil di P. Rinca adalah short track. Sayang sekali kami tidak menemukan komodo atau hewan2 penghuni P. Rinca, yang kami temui adalah jejaknya saja. Jejak yang kami temui adalah jejak kerbau, dia meninggalkan seonggok kotoran untuk menunjukkan eksistensinya :berbusa: :tai:.

Capek trekking, akhirnya kami berpamitan pada Mas Arif dan Pak Latief, ranger yang menemani kami. Beliau menyampaikan pada kami bahwa mereka senang bisa menemani kami untuk trekking. Dan beliau berpesan pada kami agar mau kembali lagi ke sana dengan membawa pasukan wanita yang lebih banyak, hahha. Mereka bilang mereka butuh penyegaran :kisss

Bertolak dari P. Rinca, Pak Kapten Kapal membawa kami ke P. Bidadari tempat bidadari2 berkumpul :hammers. Di sana Mas Wayan sangat bersemangat. Baru sejenak kapal mendarat dia langsung nyebur aja dengan membawa alat2 snorkling. Ya, ini adalah snorkling pertama kali bagi saya, Mas Wayan, dan Basari. Berbekal instruksi singkat dari Mbak Rizka, saya pun langsung mempraktekkannya. Sebelum sampai di P. Bidadari saya memang sempat bertanya tentang cara bersnorkling yang aman, nyaman, dan senang :ngakaks.

 

P. Bidadari

Meluncur ke sana kemari tak satupun hal unik saya temukan. Kecewa sudah, saya salah spot. Hal yang sama juga diutarakan oleh Mas Wayan, dia juga mengaku kurang puas dengan bersnorkling di sini. Berbeda dengan Basari dan Mas Corry, mereka mengaku bisa melihat hal2 yang menakjubkan yang biasa dipamerkan di televisi, sebuah keindahan bawah laut :amazed:. Ya sudahlah, mungkin next time bisa lihat.. :ngacir:

Selasa, 25 januari 2011

Hari itu tim terbagi menjadi beberapa tim kecil. Mas Corry dan Vina berjalan2 sendiri entah kemana. Basari tidur di penginapan, dia mengaku lelah dan butuh istirahat agar bisa jalan2 dan makan2 lagi. Sisanya ngacir ke Gua Batu Cermin yang ga banget. Masa bisa dibilang Gua Batu Cermin gara2 ada cahaya masuk di gua yang menyinari batu. Lalu ditambah lagi dengan iming2 Pak Ranger yang mengatakan bahwa nanti kami akan bertemu dengan banyak Black Spider. Bah! nyatanya cuma ketemu 1 dan itu kecil :hammers. Overall lumayan lah.. Oya, untuk ke Gua Batu Cermin cukup membayar 8K (PP) saja. Kami diantar dan dijemput oleh Bang Amat si supir angkot. Sangat fleksibel, “nanti kalau mau pulang sms saya saja,” Begitu bilang Bang Amat hahha. Sorenya, saya dan Basari berkunjung ke ArtShop untuk melihat2 dan membeli kalau ada yang murah dan unik.

 

Sekretariat Gua Batu Cermin

Rabu, 26 Januari 2011

Mas Corry mengatakan bahwa kami harus sampai bandara pukul 08.00. Kami memang naik pesawat untuk beranjak dari Labuan Bajo ke Denpasar karena tidak ada feri yang melaut ke Sape. Cuaca ekstrim lah penyebabnya, hanya ada feri yang datang ke Labuan Bajo, feri yang pergi dari Labuan Bajo tidak ada. Itu juga yang membuat kami sempat ciut nyali untuk datang ke Labuan Bajo.

 

Bandara Labuan Bajo

Penerbangan kali ini adalah pernerbangan pertama kali bagi saya dan Basari, naik Merpati dengan pesawat kecil :p. Komentar saya adalah: 1. Di pesawat kok snack-nya kayak di travel ya? :p. 2. My first flight was nice! hahahaa :thumbup:  Lancar tidak ada kendala.. Pukul 11.00 WITA akhirnya kami keluar dari Bandara Ngurah Rai. Keluar dari bandara kami langsung cari taksi untuk ke Kuta.. :ngacir2

 

Selamat Datang di Bali

Okei, itu dulu untuk bagian kedua cerita saya. Cerita selanjutnya akan bertempat di Bali.. Yeiy!  :ngacir2

Beberapa hal yang “Pertama” di sini:

1. Pertama kali snorkling, dan itu mengecewakan.

2. Pertama kali lihat komodo secara langsung.

3. Pertama kali naik pesawat, dan itu very nice walaupun snacknya biasa banget.

4 thoughts on “Journey to The West Flores, #2

  1. hahhaha,
    pengalaman kocak,
    apalagi fotonya kayak bocah ilang

    aduh mas,
    kamju baru bergaul ya?
    pertama kali naik pesawat pasti rasanya bersyukur banget
    :2thumbup

  2. manu:maff aku baru baca..supaya gak bias dengan punyaku.jadi aku terbitkan punyaku dulu baru aku baca punyamu…, wah asal kamu tahu yang kmaren itu adalah naik pesawat pertamaku (yang bayar sendiri) hampir sepuluh lainnya dibayarin..heee…itu snacknya sudah enak lo.gak kalah ama bis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s