Menangkap “Serdadu Kumbang”

Serdadu Kumbang

Amek, Umbe, dan Acan adalah tiga bocah bersahabat karib yang hidup dalam kondisi serba kekurangan di sebuah perbukitan di Desa Mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Persahabatan ketiga bocah ini seakan tak terpisahkan.

Amek, bocah yang menderita bibir sumbing, tinggal bersama “Inaq” (ibunya) Siti dan kakaknya Minun di sebuah rumah panggung sederhana yang jauh dari kota, sejak ia ditinggal ayahnya Zakaria (Jack) merantau mengadu nasib ke Malaysia.

Selain tiga sahabat sejati, Amek juga memiliki seekor kuda kesayangan yang diberi nama “Smodeng”.

Kendati hidup dalam kondisi serba kekurangan, ketiga bocah Bukit Mandar itu masing-masing punya cita-cita. Amek, misalnya ingin menjadi penyiar dan presenter TV nasional. (oase.kompas.com)

Tadi saya habis nonton film ini bersama Mbak Rizka. Seperti kebanyakan film Indonesia yang benar-benar film, film garapan Alenia Production ini sangat bagus. Ada beberapa hal yang saya tangkap dari film ini.

  1. Ternyata kambing-kambing di sana doyan makan kertas. Hal ini sudah pernah saya buktikan langsung ketika saya melakukan perjalanan ke Labuan Bajo, hehehe. Sepertinya kambing-kambing di daerah sana hobi banget makan kertas :p.
  2. Kejujuran harus dijunjung tinggi oleh kita sebagai orang yang beragama dan Pancasilais. Dalam film ini tokoh Papin (sesepuh desa) selalu mengajarkan kepada Amek dan kawan-kawannya untuk selalu jujur.
  3. Pendidikan tidak boleh dicoreng dengan kekerasan. Dalam film ini tokoh Pak Alim, seorang guru SD, mengajarkan kedisiplinan dengan kekerasan. Sampai-sampai membuat Amek dan kawan-kawannya bolos sekolah karena mengaku capek dihukum (lari, push up, dll) terus. Kalau untuk kesenioran sih ga apa-apa, hehehe :p
  4. Pantang menyerah untuk menggapai cita-cita. Diceritakan dalam film bahwa untuk lulus SD adalah sangat susah, bahkan ketika pengumuman kelulusan kakaknya (Minun) yang di SMP , satu sekolah tidak lulus semua. Ngeri! Hal ini bahkan membuat Minun meninggal dunia karena terjatuh dari pohon cita-cita. (bingung? tonton filmnya!)
  5. Menggantungkan cita-cita setinggi-tingginya. Amek dan kawan-kawannya selalu menggantungkan cita-cita mereka setinggi-tingginya. Mereka tidak takut bermimpi di tengah keterbasan yang mereka hadapi. Dalam film disimbolkan dengan menggantungkan cita-cita yang ditulis dan dimasukkan botol itu di dahan pohon yang sangat besar. Anak-anak sedesa melakukan hal itu.

So! Tetap berjuang untuk meraih cita-cita dan mimpi-mimpimu ya temans.. 😀 Jangan mau kalah sama Amek!

2 thoughts on “Menangkap “Serdadu Kumbang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s