Back to Culture bukan Mbak Tukul Cor

Sekarang ini sedang marak2nya kampanye Back To Culture. Dari mas2/mbak2 sampai bapak2/ibu2 semuanya menyerukan Back To Culture. Tapi rasanya kurang tepat apabila kampanye itu tidak dibarengi dengan pakem yang kuat. Nguri2 budaya Jawa misalnya, ada instansi yang mencanangkan hari Bahasa Jawa pada hari tertentu. Lalu pengumuman2, penulisan nama jalan, dan media publikasi lain memberitakan dengan bahasa jawa. Namun banyak yang cara nulisnya salah. Saya pernah juga menulis tentang ini, teman2 bisa lihat di sini.


Ajakan untuk teman2 se-Jateng, se-DIY, dan se-Jatim

Kemarin saya diskusi sama Mas Bima seorang dosen Sastra Nusantara, dan sebelumnya pun saya juga sudah diskusi dengan bulik saya seorang dosen Tari UNY tentang Bahasa Jawa ragam tulis. Hasilnya adalah:

1. Penulisan bahasa jawa sekarang salah kaprah, pada ga tau cara nulisnya. Bahkan berita tulis dari kraton pun penulisannya salah.
2. Banyak baliho/publikasi di tempat2 publik salah cara nulisnya.

dudu ‘ono opo‘ tapi ‘ana apa
dudu ‘kenopo, sesok‘ tapi ‘kenapa, sesuk
dudu ‘wes, seng, neng‘ tapi ‘wis, sing, ning
dudu ‘entok, piro, moto‘ tapi ‘entuk, pira, mata

lupakan: ho no co ro ko, do to so wo lo, mo go bo tho ngo, po dho jo yo nyo.
ingat: ha na ca ra ka, da ta sa wa la, ma ga ba tha nga, pa dha ja ya nya.

Mari lestarikan cara penulisan bahasa jawa yang baik dan benar, bedakanlah pengucapan dan penulisannya, kalau gini terus nanti bisa2 teman2 mengajarkan anak2 teman2 juga begini. Salah ngajarin salah ya ketemu salah.. hayo hayo.. berperanlah untuk bangsamu teman2. Ayo sebarkan hal ini ke teman2 yang lain. Agar Indonesia kita sadar. Dari langkah kecil nantinya akan jadi lompatan besar, dan teman2 lah yang membuat lompatan itu :D.

Untuk mengawalinya, ayo tiap hari Senin kalau kita sms/nulis bahasa jawa, nulisnya yang bener :D. Mudah bukan?

oya ini bukan ngejek Pak Tukul lho karena judulnya ada tukulnya, hehehe

Salam,
Rahmanu

4 thoughts on “Back to Culture bukan Mbak Tukul Cor

  1. untung saya tidak bisa bahasa jawa:) olah karenanya generasi penerusnya saja sudah tidak peduli sebelum ada “skandal” baru bertindak

    1. skandal? yang penting generasi muda harus bergerak, mulai dari komunitas2 kecil aja kampanyenya.. dari yang kecil kan nanti lama2 besar juga ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s