Saran: Hanya Lewat atau Mampir

Saran

Eh aku kasih saran dong.. kemarin tuh aku bla bla bla bla. Trus harus gimana nih?

Galau dan labil, dua kata yang akrab di telinga kita belakangan ini baik dari televisi, radio, koran, majalah, dan jejaring sosial. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) galau termasuk ajektiva yang  berarti sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Sedangkan labil juga termasuk ajektiva dan berarti goyah; tidak mantap; tidak kokoh. Jadi sebenarnya galau dan labil itu “hanya” sifat, dan sifat itu dapat diubah dengan kebiasaan. Jika kita membiasakan untuk tidak galau dan labil, maka sepasang kata itu pun akan sulit mendekati kita.

Sean Covey dengan bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Teens yang merupakan buku “downgrade” dari buku bapaknya yang berjudul sama yang ditujukan untuk pembaca bapak-bapak/ibu-ibu yang berisi 7 hal tentang manajemen diri. Di buku tersebut ada banyak cara untuk mengatasi galau dan labil yang suka muncul di tengah-tengah kesibukan pemuda-pemudi zaman sekarang. Salah satu cara mengatasi galau dan labil adalah dengan meminta saran kepada orang lain.

Nah, bicara soal saran kita tidak bisa hanya berpusat pada keantusiasan saran si pemberi saran. Ketika kita sudah mendapat saran dari orang lain, secara langsung kita telah meminta masukan yang baik dari orang tersebut. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya saran-saran yang diberikan pun terkadang tidak sesuai dengan keadaan kita. Kita harus pintar-pintar memilih saran di sini, sikap selektif sangat diperlukan. Jangan sampai nantinya ketika kita mejalankan saran yang diberikan teman kita, kita malah semakin galau dan labil. Jadi memilih saran sama pentingnya memilih bidak catur yang akan kita mainkan, beda bidak beda pula “rasanya.”

Sikap selektif hendaknya diikuti dengan sikap prediktif. Maksudnya ketika kita sudah memilih saran untuk dilaksanakan, maka yang harus dilakukan adalah melakukan prediksi terhadap hal-hal yang akan terjadi ketika saran dari teman itu kita lakukan. Banyak lho teman kita yang asal aja mengikuti saran tanpa memprediksikan apa yang akan terjadi. Terlebih soal cinta. Dengan pedoman “selama janur kuning belum melengkung” teman-teman kita di luaran sana pasti memberikan saran “hajar terus” jika kita meminta saran tentang cinta pada teman kita. Padahal hal itu (merebut) sangat tidak dianjurkan karena bertentangan dengan prinsip.

Setelah kita memprediksikan apa yang akan terjadi, hal selanjutnya adalah evaluasi terhadap hal yang sudah kita lakukan. Evaluasi berperan penting di sini karena ini yang akan menentukan langkah kita selanjutnya. Tetap minta saran pada orang yang sama, atau orang lain. Evaluasi (semua hal) bagai pedang bermata dua. Evaluasi yang tidak disertai dengan follow up-nya tidak akan bermakna apa-apa terhadap kita, hanyalah sebagai “pemuas hasrat” evaluasi. Berbeda jika kita melakukan follow up terhadap evaluasi kita. Ketika evaluasi tidak disertai follow up, bisa saja kita jatuh di lubang yang sama. Namun jika kita melakukan follow up, kita bisa menghindari lubang tersebut.

Meminta saran adalah salah satu bentuk cara kita untuk bertahan hidup. Beruntung kita hidup bersama-sama, tidak sendirian. Jadi kesempatan untuk bertahan dari keganasan badai kehidupan sangat besar. Orang yang sendirian saja bisa bertahan hidup, apalagi kita yang bersama-sama? Seperti Tom Hanks yang berperan sebagai seorang pegawai FeDex dalam film Castaway yang bisa bertahan hidup 4 tahun di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni setelah pesawat yang ditumpanginya jatuh. Dia hanya berteman sebuah bola voli yang diberi nama Wilson. Kemudian ada kisah Norman Ollestad dalam bukunya yang berjudul Crazy for The Storm, mampu bertahan di Ontario Peak di tengah salju yang super dingin dan sesekali ada badai.

Ya itu saja tentang sharing saran dari saya, maaf jika ada yang kurang atau bahkan terlalu berlebihan.

O iya, sekalian lewat tulisan ini saya launching kategori baru di blog saya, hehehe. Nama kategorinya adalah kategori serius. Maksudnya saya akan posting hal-hal yang serius dan ga bercanda seperti biasanya 😀

Salam,

Rahmanu

2 thoughts on “Saran: Hanya Lewat atau Mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s