Pancasila vs Pancacila

Pancasila

Pancasila? atau Pancacila? Dulu ketika masih kecil, kita belum bisa mengucapkan “s”, sehingga kerap kali mengucapkan pancasila menjadi pancacila. Sekarang, kita sudah fasih mengucapkan “s”, sehingga mampu mengucapkan pancasila dengan benar. Namun, pengucapan pancasila oleh generasi muda (genmud) sekarang tidak disertai dengan prilaku yang pancasilais, kerap kali walaupun mampu mengucapkan pancasila, prilakunya masih pancacila.

Genmud akan kehilangan jiwa pancasila-nya kalau tidak dibiasakan berpancasila. Contoh riil dalam pertemanan yang saya alami adalah ada seorang teman saya tidak mau satu kelompok dengan teman beragama lain. Alasannya tidak jelas, dia hanya bilang tidak mau. Hal kecil ini sudah mencerminkan kalau masih ada generasi muda yang berjiwa pancacila, sungguh ironi.

Beberapa bulan lalu banyak berita mengenai tawuran pelajar karena masalah pacar. Hal sepele ini saja bisa menjadikan dua sekolah tawuran. Alasan mereka tawuran karena membantu temannya menyelesaikan perkaranya dan karena solidaritas. Solidaritas? Lucu jika dibilang membantu teman adalah salah satu bentuk solidaritas. Ada lagi cerita tentang cekcok dua perguruan tinggi besar di Indonesia di salah satu forum online. Adu mulut terjadi hanya karena ada calon mahasiswa yang meminta pendapat untuk masuk universitas mana yang sesuai minatnya. Gara-gara sekelumit argumen saja, persoalan jadi runyam. Mereka bilang karena cinta civitas akademikanya. Mereka lupa sila persatuan indonesia, kemanusiaan yang adil dan beradab atau bahkan mereka bukan warga Indonesia. Lagi-lagi pancacilais muncul.

Lalu ada lagi cerita tentang ada seorang mahasiswa yang mengaku dirinya kurang mampu hanya karena ingin mendaftar beasiswa. Seolah-olah dia kurang mensyukuri nikmat dari Tuhan kepada dirinya, sampai dia masih mengatakan bahwa dirinya kurang mampu. Padahal ada mahasiswa lain yang benar-benar kurang mampu dan membutuhkan beasiswa tersebut, tetapi dia malah menyerobot kesempatan si mahasiswa kurang mampu tadi. Dengan sikapnya yang seperti itu dia lupa akan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah!

Cerita tentang prilaku pancacilais memang tidak ada habisnya, siswa, mahasiswa, bahkan para karyawan pun masih berperilaku pancacila. sekarang bandingkan kejadian-kejadian di atas dengan prilaku kita waktu kecil, waktu masih berucap pancacila. Kita bermain, belajar, bersekolah, berkelompok, dan berolahraga tidak memandang agama, suku, dan bahkan ras. Lalu ketika kita bertengkar dengan teman, kita menyelesaikan urusan itu sendiri bahkan hanya bermodal jabat tangan, senyum simpul, dan ucapan “maaf ya.”

Masa kecil kita memang kurang dengan IT dan sekutunya, tetapi itulah yang membuat pertemanan kita dulu sangat kuat dan berkarakter. Prilaku polos  yang bermodalkan pelajaran PPKn dari sekolah menjadi pedoman dalam berkawan, memelihara binatang, bermain layang-layang, dan hal-hal lain yang anak-anak banget yang justru beberapa merupakan prilaku yang pancasilais.

2 thoughts on “Pancasila vs Pancacila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s