Labil = Dinamis

Tidak stabil = labil.
Tanah yang labil tidak akan mudah dibangun gedung yang tinggi.
Kapal yang labil akan kesulitan mencapai tujuan.
Mobil yang bannya bocor akan labil jalannya.
Sepatu hak tinggi yang labil akan sulit dipakai untuk berlari.

Labil, kata yang sering diucapkan teman-teman belakangan ini. Selalu berpasangan dengan galau. Entah kenapa labil dan galau selalu berpasangan, apakah mereka kakak adik, kembar siam, atau bahkan paman dan keponakannya.

Banyak teman-teman kita di luaran sana yang sering dikatain labil, bahkan saya juga. Padahal jika kita telusuri dan kita “putarkan,” labil itu berarti dinamis. Ditekankan lagi, labilnya itu menanjak (positif) bukan down hill (turunan). Maksudnya di sini adalah kita berubah semakin baik dan baik, bukan menjadi lebih jelek (sifat kita). Nah, di sini mari kita bahas labil dalam hal positif, saya ajak teman-teman semua mengambil nilai positif dari labil.

Beberapa bulan kemarin saya mempunyai tokoh2 inspiratif, ada teman sendiri, mentor, kyai, budayawan, sampai sastrawan. Semuanya saya rangkum menjadi satu, itulah Indonesia (lho?). Hehehe saya rangkum sifat mereka yang baik-baik, dan saya terapkan pada saya sendiri. Terkadang saya tidak sanggup menerapkan sifat2 mereka, tetapi saya telah mencoba dan mengevaluasi sifat mana yang cocok dan sifat mana yang tidak cocok. Jadi saya ambil aja fraksa2 sifat tokoh2 tersebut. Mengingat bahwa salah satu panduan saya adalah kutipan seorang aktris, dia mengatakan bahwa jadilah versi kelas satu dari dirimu sendiri ketimbang menjadi versi kelas dua dari orang lain. Intinya adalah be myself!

Namun perlu diingat bahwa kita juga tidak boleh labil secara terus-terusan, apalagi pakai galau? Buat saya galau harus dilawan dengan galak! Ya, dengan galak! Biar si galau itu takut balik lagi ke diri kita. Caranya bagaimana? Kalau saya lagi galau, saya denger musik pakai headphone dan kalau waktu ibadah, ibadah yang benar-benar. Jangan ibadah-ibadahan hehehe.

Gitu dulu deh, nanti kalau saya dapat inspirasi lagi baru saya tambahin. hehehe Nah begitulah sudut pandang pemaknaan labil menurut saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s