Rumahku Terpaksa Bermusik

Hari ini aku ga bisa main sepakbola lagi, ya hari hujan teman-teman. Sudah beberapa kali aku ga jadi bermain bola. Baik gara-gara hujan, pindah rumah, lapangannya ilang, sampai ga ada temen main. Hal itu terjadi sejak Manchester United (MU) ga jadi datang ke Indonesia hahahahaha. Halo namaku Budi, akulah yang dulu sering muncul di baliho-baliho kotamu. Aku masih sangat ingat kalimat yang jadi guyonan banyak orang gara-gara MU ga jadi bertandang ke Indonesia tercintah. Kalimat itu berbunyi, “Budi tidak jadi bermain bola.” Nyesek sekali waktu itu, banyak orang menggunjing namaku :p.

Aku tinggal di lereng G. Semeru, kecamatan Sidodadi, Kabupaten Brebes. Hahahaha, G. Semeru itu bukan Gunung Semeru lho, tapi itu nama gang alias jalan kecil banget. Namanya Gang Semeru dan rumahku di pangkal gang :p. Di rumah mungil itu aku tinggal bareng bapak dan ibuku, tak lupa juga adikku dan seekor kucing dan dua ekor ayam dan tiga ekor itik dan beberapa ekor cicak dan banyak ekor semut dan masih banyak lagi hewan-hewan yang bertengger di rumahku. Tapi rumahku bukan kebun binatang lho… :p

Di rumahku selain banyak binatang liar (rumahan), rumahku juga bisa main musik. Namun sayang cuma beberapa nada saja yang bisa dimainkan. Rumahku bisa main musik jika dan hanya jika sedang hujan. Ketika hujan turun awalnya suara gemerinting rintik hujan yang jatuh di genting terdengar, lalu lama kelamaan gantian suara air yang jatuh di ember. Lalu suara air jatuh di panci pun terdengar, disusul oleh suara air memukul permukaan wajan. Kurang lebih suaranya seperti ini: Ting ting ting tok tok ting ting tok tok. Kapan-kapan aku pengen gitaran sambil di-perkusi-in sama beberapa tadah hujan tadi. So kawan-kawan yang tadah hujan itu bukan cuma sawah lho, rumah juga bisa tadah hujan :p

Sudah beberapa kali bapak memperbaiki rumah musik kami, tapi hasilnya nihil. Aku malah berharap bapak ga berhasil benerin si genting, biar “ting ting”-nya tetep terasa :p. Tapi kasian juga ding adik ga bisa belajar dengan tenang kalo hujan, was-was bukunya kena tetesan air hujan. Ah jadi serba salah kan? hahaha Bocor suka, ga bocor pun suka. Namun aku jadi sadar kalo yang tinggal di rumah ini ga cuma aku, ada bapak, ibu, adik, dan beberapa hewan liar yang tadi aku sebutin. Jadi sekarang doaku kuubah agar genting rumah bisa dibenerin bapak :)). Berpikir menang dan menang, itu yang diajarkan pak Covey. Kalau genting diperbaiki aku bisa nyaman main gitar, adik ga was-was bukunya basah, ibu dan bapak tenang nonton teve, dan cicak-cicak pun nyaman mencari nyamuk :D.

Yoheeee… akhirnya saya (Rahmanu) bisa ngarang cerpeng (cerita pendek banget) juga hahaha. lumayanlah karangan dadakan ini dapat 4 paragraf, ntar bisa banyak deh! Osh!

4 thoughts on “Rumahku Terpaksa Bermusik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s