KP #2: Menginjak 0 derajat

Berawal dari Bayu, teman PKL kami, yang bercerita kepada saya bahwa ada Tugu Katulistiwa di dekat Bontang. Awalnya saya nggak percaya, lha wong setau saya di Indonesia yang dilalui garis equator kan bukan di Bontang. Tapi Bayu tetep saja berusaha meyakinkan saya bahwa ada tugu tersebut. Dia bilang letak tugunya ada di pinggir jalan Bontang-Samarinda, kurang lebih 200m dari badan jalan.

Jumat-Sabtu kemarin saya dan Fajar, partner Kerja Praktek (KP) saya, turun ke Bontang. Ya, tempat KP kami memang berada di perbukitan, di sebuah perusahaan batubara nasional, PT. Indominco Mandiri. Makanya kalo ke Bontang disebut turun ke Bontang.

Selama di Bontang kami menginap di rumah saudara (jauh) Fajar, namanya Pak Parman. Rumahnya ada di perumahan KCY . Ketika kemarin kami ke sana, kami sempat berjalan sejauh 2km lho, karena gak ada angkot, hehehe lumayan olahraga sore. Sip sampai di sana teh hangat sudah menunggu 🙂

Bangun pagi, mandi, sarapan, dan dipinjami motor untuk muter-muter. Yes! Hari Sabtu itu kami akan jalan-jalan kawan! Ya, jalan-jalan hahaha, jalan-jalan adalah hal yang langka bagi kami selama KP, maklum tempat KP kami kan ada di tengah hutan, jauh dari hiruk pikuk keramaian :p. Pagi itu saya paksa Fajar agar mau berangkat pagi, akhirnya jam 8.30 kami berangkat. Namun sebelum itu saya browsing dulu cari tujuan. Setelah pencet saba pencet sini akhirnya diputuskan untuk mengunjungi Tugu Katulistiwa sesuai cerita Bayu. Tugu Katulistiwa ini berada di pinggir jalan Bontang – Samarinda kilometer 26. Kalau teman-teman pergi dari arah utara (Bontang), tugu ini ada di kanan jalan.

Jalan menuju Tugu Katulistiwa sangat berliku, semacam lika liku laki-laki, suwer nggak bohong saya. Jalannya berbukit naik turun, banyak lubang di kiri dan kanan, serta lumayan sepi. Sepanjang perjalanan yang ditemui hanya truk truk dan mobil dan dikit banget motor. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon pohonan… Jarak antara desa satu dan desa lain sangat jauh kawan, benar memang kalo di luar Jawa itu jarak antar desa sangat jauh, sudah saya buktikan sendiri.

Satu jam perjalanan sudah kami lalui, dan terlihatlah sebuah bangunan (agak) tinggi di kanan jalan. Hore! Kami sudah sampai tujuan. Namun karena melihat portalnya ditutup kami jadi ciut hati bisa menginjakkan kaki di equator. Beruntung ada seorang ibu-ibu berteriak, “kalau mau masuk buka aja portalnya, mas! Gak apa-apa.” Sip, Fajar pun langsung tancap gas membuka portal.

Tugu ini dibangun atas Karya Bakti Latsitarda (Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara) tahun 1993, diresmikan oleh Panglima ABRI Jendral TNI Feisal Tanjung. Sesudahnya tempat ini kurang mendapat perhatian, baik masyarakat ataupun pemerintah. Hingga pada tahun 2010 tempat ini direnovasi oleh dengan pendanaan pihak swasta (PT Kaltim Methanol Industri). (kotabontang.com)

Bangunan Nol Derajat
Tangan Kanan di LU, Tangan Kiri di LS

 

Sang Fotografer

Ayey! Begitu sampai di tugunya, saya benar-benar takjub, padahal cuma tugu lho kalo dipikir-pikir, gak ada menariknya blas. Tapi entah kenapa saya merasakan sebuah ketakjuban yang amat sangat, sama kayak pas pertama kali saya bekpeking bareng Tyo. Ketika itu kami pergi ke ujung barat P. Jawa yang terletak di pelosok Sukabumi. Kami pergi dengan misi “mengantar sandal,” karena kami sekalian mengunjungi teman kami yg KKN di Pantai Pangumbahan, sekalian liat penyu hehehe. Saya sangat bersyukur bisa hidup di Indonesia, banyak yang unik-unik dan “wah” di sini. Merdeka!

Langit Biru

Puas berleyeh-leyeh dan ngetuit, karena sinyalnya bagus, kami pun kembali ke Bontang dan memutuskan untuk mengunjungi Masjid Baiturrahman yang berada di kompleks PT. Pupuk Kaltim. Padahal tiap hari Jumat pun kami bersama karyawan Crusher 3 (site KP) biasanya solat Jumat di sana. Namun kami nggak pake foto-foto. Berhubung hari itu judulnya jalan-jalan, jadi kami cuma foto-foto di sana, hehehe lagian juga belum waktu duhur kok :p #istigfar

Masjid

Sebelum pulang, kami mampir beli es campur dulu untuk menyegarkan badan eh maksudnya menghilangkan dahaga. Karena dahaga dapat menyebabkan degradasi, dan degradasi harus disembuhkan dengan irigasi, hehehe.

Es Campur Seger

Sekian, sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Salam,

Rahmanu

5 thoughts on “KP #2: Menginjak 0 derajat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s