Merenda Sajak-sajak Rendra

Sebelum saya menyampaikan kabar saya, saya ngucapin selamat Idul Fitri kepada kawan-kawan yang merayakan dan saya juga mohon maaf batin dan lahir ya, karena tak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Tuhan dan lagunya Andra… 🙂

Lagi-lagi saya datang ke pertunjukan sastra. Pertunjukan yang entah kenapa bisa membuat saya hanyut di dalamnya walaupun hanya sebagai penonton. Kali ini pertunjukan sastra yang saya hadiri bertajuk Bincang Bincang Sastra yang digelar oleh Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta. Bincang-bincang kali ini sudah yang ke 83 kali lho! Dan kali ini mengangkat puisi-puisi karya sastrawan besar Indonesia, WS Rendra.

Saya mencatat ada tujuh penampilan dalam pertunjukan yang digelar di ruang seminar TBY kemarin. Namun sayang dari ketujuh penampilan itu, tidak ditampilkan puisi favorit saya, Rajawali. Puisi yang diperkenalkan oleh seorang kawan karib yang sangat kuat dan besar – beneran besar hehehe – seorang kawan karib yang menjadi mentor saya.

Menikmati dan menghikmati puisi-puisi yang ditampilkan, saya menemukan bahwa ternyata Pak Rendra bukan hanya sosok yang garang. Pak Rendra juga bukan hanya sosok yang anggun seanggun burung merak. Namun Pak Rendra adalah sosok yang kompleks. Beliau adalah sosok yang unik, enerjik, mistis, dan romantis. Semuanya dapat ditemukan dalam puisi-puisi karyanya, ada puisi yang sangar, mistis, dan bahkan ada juga yang romantis.

Sepulang dari pertunjukan kemarin, lagi-lagi saya mengalami tambahan turbulensi lagi. Turbulensi rasa yang belakangan sudah muncul malah ketambahan turbulensi jiwa dan visi. Ya, turbulensi rasa yang saya alami ini memang sudah ada sejak salah satu mozaik saya susah sekali melengkapi susunan warna yang saya punya. Beberapa kali terlintas pikiran untuk menjadi seorang yang independen dulu. Ingin rasanya menghindari obrolan-obrolan feminim dulu. Ingin rasanya berdiskusi langsung bersama mozaik saya yang lain untuk mengobrolkan hal-hal maskulin, hahahaha… Nulisnya sambil dikasih soundtrack-nya “it’s my life – Bon Jovi”

Turbulensi jiwa, terjadi ketika saya melakukan flashback sambil menikmati film, buku, dan pertunjukan. Film dan buku yang saya habiskan kok ya ngomongin soal jiwa itu lho, apakah ini kebetulan? Seseorang pernah bilang kepada saya bahwa kebetulan itu tidak ada, karena Sang Maha Pembuat Skenario sudah membuat skenario untuk setiap individu yang diciptakanNya. Lha terus apa dong? Apakah saya sedang ditanya? Atau diingatkan?

Ah pokoknya kalo kita bisa merenda setiap makna, maka kita bisa tuh mendapat sebuah kain yang bagus. Kain yang komposisi warnanya sesuai dengan warna yang kita inginkan. Hehehe maaf kalo malah ngelantur dan melenceng dari Pak Rendra 🙂

Oya ini dokumentasi pertunjukan kemarin, saya motretnya cuma dari hape :p

Penampilan lagu puisi oleh Pak Untung Basuki
Penonton yang hikmat

2 thoughts on “Merenda Sajak-sajak Rendra

  1. Nice one…
    but unfortunately I didn’t come.

    another days, maybe next performance I’ll come and enjoy together

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s