Bersama Episentrum

Buku 23 Episentrum

Judul: 23 Episentrum

Penulis: Adenita

Tebal: 278 Halaman

Cetakan pertama

Penerbit: Grasindo

Tiga anak muda mengejar dan menemukan profesi yang didamba.

Matari, mengejar penghasilan untuk membayar utang kuliah dan menjalani hidup sebagai reporter.

Awan, seorang pegawai bank yang menunggu waktu untuk mewujudkan impiannya sebagai penulis skenario film.

Prama, seorang pekerja di perusahaan minyak yang berlimpah materi, namun belum menemukan kebahagiaan dan makna hidup.

Mereka mencari tujuan, ambisi dan keinginan sampai akhirnya menemukan makna “23 Episentrum”. Ini lah kisah perjalanan Mata, Hari, dan Hati yang menggugah. -sumber: Goodreads.

Buku ini menceritakan tentang tiga perjalanan, mata, hati, dan hari. Perjalanan mata dialami oleh Matari, seorang lulusan Ilmu Komunikasi yang bercita-cita menjadi news anchor di salah satu stasiun tivi. Demi menggapai cita-citanya, Matari sampai berhutang ke sana ke mari untuk membiayai kuliahnya. Ya, Matari berasal dari keluarga kurang mampu, maka dia harus berhutang untuk membiayayai kuliahnya. Misinya setelah lulus kuliah adalah membayar semua hutangnya.

Tokoh kedua adalah Prama, seorang lulus Teknik Perminyakan ITB yang setelah lulus kuliah dia langsung teken kontrak sebagai International Mobile Employee dengan perusahaan minyak dari Prancis, dan digaji USD 45.000 sebulan. Namun semua yang didapatnya itu tidak serta merta membuatnya bahagia, katanya, “apalah arti kesuksesan tanpa kebahagiaan.” Ada sesuatu hal yang mengganjal kebahagiaannya, yaitu rasa cinta. Cinta terhadap sesama dan cinta terhadap seseorang. Itulah perjalanan hati.

Selanjutnya Awan, seorang bankir kesasar kalo menurut saya. Lulusan matematika ITB ini sebenarnya ingin menjadi seorang penulis skenario. Namun karena dia harus membantu ibunya membiayai sekolah adiknya selepas ayahnya meninggal, dia rela menjadi bankir di sebuah bank walaupun tidak membuatnya bahagia. Akhirnya setelah lama bergelut dengan ketidaknyamanan itu, dia memberanikan diri untuk berbicara pada ibunya. Dia keluar dari pekerjaannya dan menjadi penulis skenario sampai ceritanya membuatnya terbang ke Rotterdam untuk mengikuti Festival Film Rotterdam. Itulah perjalanan hari.

Membaca buku ini membuat saya bingung dengan pekerjaan yang akan saya geluti selepas lulus dari kuliah. Apakah saya harus melakukan perjalanan hari dulu, atau langsung perjalanan mata *tsaah hahahaha

Banyak pelajaran yang didapat dari buku ini, tetapi yang paling mengena adalah, “apalah arti kesuksesan tanpa kebahagiaan.”

Selamat membaca!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s