Solopedisi #2

Tulisan ini lanjutan Solopedisi #1. Cekidot

Menyusuri Jalan Slamet Riyadi

Salah satu Tim Solopedisi bilang bahwa jarak dari Purwosari ke Ps. Klewer hanya 20 menit. Ngap! Jarak 20 menit itu ditempuh dengan mengendarai motor. Kalo jalan kaki bisa sampai hampir satu jam, dan itu sudah kami buktikan kemarin. So, gak semua yang kamu dengar itu benar. Dibutuhkan data-data penunjang dan kalo perlu dibuktikan saja seperti yang kami lakukan.

Kami beruntung lagi. Pokoknya beruntung terus dah ini. Jalanan sepanjang Slamet Riyadi sangat bersahabat dengan pejalan kaki. Trotoarnya lebar, teduh, banyak objek unik pula, menambah meriahnya perjalanan kami. Saya pun sempat joget shuffle seadaanya-sebisanya di trotoarnya hahaha. Dan tentunya urusan foto-fotoan so pasti dilakukan di setiap ada kesempatan dan ada objek unik.

Masjid Muslim

 

Canting Raksasa

 

Patung Gahul

 

Doa Naik Kendaraan

Perjalanan kami sempat terhambat oleh semerbak bau nangka yang dikupas oleh penjual Es Potjong di trotoar. Hmmm saya dan Vicky pun tergoda dong untuk nyicipin esnya. Apalagi cuaca lagi ciamik banget, ciamik panasnya! Saya pesen Es Potjong John, Vicky pesen Es Potjong Bebz, kawan yang lain juga pesen, tapi saya gak apal apa aja, hahaha. Jadi Es Potjong John itu adalah es yang bikin kita bisa lompat-lompat kayak pocong girang #keplak. Satu gelas es potjong berisi bubur sumsum putih di suatu gelas panjang ramping, ditambah serutan es batu yang disiram sirup frambos, lalu topingnya ada kue moci lembut dan potongan pisang yang disiram susu kental manis. (Kalo yang Bebz pisangnya diganti stroberi, ada toping lain seperti roti, jelly, dll). Terbayang kan sedapnya? Bayangkan lembut dan gurihnya bubur sumsum berpadu dengan manis dan dinginnya sirup frambos, kekenyalan kue moci dan manisnya pisang. waaaah, lllapeeeer!

 

Es Potjong dan Bakso Bakar
Es Potjong Bebz

Oya untuk cemilannya, kami beli bakso bakar yang pedes-gurih-kenyal, pokoke maknyus!

Tengkleng Bu Mitro

Arloji yang merangkul erat di tangan saya sudah menunjukkan pukul satu siang. Mampirlah kami ke Masjid Agung yang teryata Masjid itu sebelahan sama Pasar Klewer, Pasaaaarr Kleeeweeeer, Buuuung! Ketika kami sudah sampai Ps. Klewer berarti misi makan tengkleng tinggal selangkah lagi kan? Giranglah saya hahahaha. Ditanyain rombongan, “Tengklengnya di sebelah mana?” “Gak tau, ayo cari.” Jawaban singkat padat jelas yang sekaligus menggambarkan betapa absurd-nya rencana perjalanan saya.

Putar-putar, naik-turun, belok kanan-kiri pun kami lakukan untuk menyusuri luasnya Ps. Klewer sampai akhirnya Vicky dan Dwika yang udah gak yakin sama saya bertanya pada seorang bapak tentang letak tengkleng Bu Edi di sebelah mana. Setelah sukses bertanya dan ditunjukkan ke jalan yang benar, kami pun cap cus ke pojokan sebelah kantor satpam yang mana adalah tempat mangkal Bu Edi. Eng Ing Eng! Kami gak menemukan kerumunan orang ngantri makan tengkleng, dan gak ada bau-bau tengkleng. Tengleng Bu Edi tutup sodara-sodara. Sontak saya pun cuma bisa mengusap muka di depan Pak Satpam karena informasi menyedihkan dari beliau bahwa hari itu Bu Edi libur. Cedih euy!

Beruntung lagi (keren kan?), Dwika udah dapat informasi bahwa kalo Bu Edi tutup, mampir aja ke Mbah Mitro di Beteng. Yes! Masih ada harapan untuk makan tengkleng dan menyelesaikan misi. Ya walopun gak makan tengkleng di Ps. Klewer, tapi dianggap misinya tuntas lah, udah jauh-jauh euy!

Sayang seratus sayang tengkleng Bu Mitro kurang panas, cumang anget, jeruk panas yang saya pesan pun cumang anget. Namun di luar itu rasa tengklengnya enak lho, kawan. Gak rugi banget lah makan tengkleng di Bu Mitro. Oya ternyata yang jual bukan Mbah Mitro, tapi Bu Mitro. Tulisan di geber warungnya “Bu Mitro.”

 

Tengkleng Bu Mitro
Vicky Makan Tengkleng Bu Mitro

 

Akhirnya Gak Jalan Kaki

Cukup sudah makan tengkleng Bu Mitro. Kami langsung cap cus ke Stasiun Solo Jebres untuk naik Prameks yang jam 17.40, tetapi sebelum itu kami mampir dulu untuk solat ashar di masjid dekat tengkleng Bu Mitro. Coba tebak kami bagaimana cara kami sampai ke Solo Jebres, hayooo? Yak! Tepat sekali bagi kamu yang menjawab kami berjalan kaki sampai ke Solo Jebres, masih berjalan kaki! Sampai di sana ternyata Prameks paling sore yang berangkat dari Solo Jebres adalah jam 15.10, ting tong ting tong.

Su capek kitorang jalan jauh-jauh e. Ternyata habislah sudah Prameksnya. Tarada Prameks pukul 17.40 di Solo Jebres. Kami harus ke Solo Balapan, karena informasi dari petugas Solo Jebres mengatakan bahwa Prameks jam 17.40 berangkat dari Solo Balapan.

Tak kuat lagi berjalan kaki, kamipun menyewa mobil seharga 35000 untuk sampai ke Solo Balapan, akhirnya gak jalan kaki lagi #fiyuuh. Sepanjang perjalanan ke Solo Balapan, kawan-kawan Solopedisi pun bercerita tentang perjalanan kami ke bapak sopir. Bapak sopir pun terdengar kaget mendengar kami berputar-putar kota Solo dengan berjalan kaki. “Pak hari ini kami ke Ps. Klewer jalan kaki” “Ha? Ciyus? Miapah?,” Kata psk sopir. Andaikan pak sopir benar-benar berkomentar “Ciyus? Miapah?” Pasti lebih asyik! #plak.

Sekian dan Terima kasih

 

NB:

Terima kasih Ya Allah, karena telah menjaga kami selama berjalan-jalan di kota Solo.

Terima kasih kawan-kawan Solopedisi karena tidak menghakimi diriku akibat rencana yang cuma mateng separo, gak well done.

Terima kasih pedagang es potjong yang telah menggoda kami dengan wangi nangka.

Terima kasih kepada warga Solo yang mendahulukan pejalanan kaki menyebrang jalan lewat zebra cross dan memberitahu jalan yang benar.

Terima kasih Dwika, karena telah menyempatkan diri ikut berjalan-jalan padahal hari Senin harus berangkat ke Jepang. Ah aku akan merindukanmu. Akan kujaga kosanmu, kawan.

Terima kasih (lagi) kepada kawan-kawan Solopedisi yang telah membagi kebahagiaan selama di perjalanan.

Terima kasih (lagi) kepada kawan-kawan Solopedisi yang telah datang tepat waktu janjian kita, jam 07.00 di MU. Padahal ternyata keretanya berangkat jam 09.30, hehehe. aku gak tau lho soal jadwal, jadi ya gitu deh. Nyang penting hepi kalo kata Mira.

Terima kasih kepada para pembaca karena telah mau membaca cerita panjang ini.

Terima kasih.. selamat datang kembali 🙂

10 thoughts on “Solopedisi #2

    1. yoi dong, namanya juga patung gahul euy
      kmrin rencana mau beli gantungan kunci, tapi rasanya kaki ini berat berhenti di penjualnya hahhaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s