Kisah Si Nenek Lincah

Saga no Gabai Bachan

Judul: Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)

Penulis: Yoshichi Shimada

Penerjemah: Indah S. Pratidina

Tebal: 245 Halaman

Cetakan Ketiga

Penerbit: Kansha Books

 

“Saga no Gabai Baachan mampu membuat para pembaca tersentuh sekaligus kagum akan kekuatan seorang nenek dalam membesarkan cucunya. Sangat direkomendasikan bagi para ”anak nenek” dan semua orang yang rindu pada sosok seorang nenek.”
— Cynthia (editor Majalah Animonster)

“If you wanna be happy, be happy NOW. Itulah prinsip Nenek Osano yang luar biasa. Novel ini seru, kaya nuansa (bikin terenyuh, lucu, mengharukan), mampu mengaduk-aduk emosi pembaca dan yang pasti akan membangkitkan kebahagiaan.”
—Arvan Pradiansyah (Narasumber Talkshow “Smart Happiness” di SmartFM Network)

“Membaca buku kecil ini mengajak kita menoleh sejenak ke negara lain untuk melihat negara sendiri dan bersyukur merayakan kesederhanaan yang masih kita miliki.”
—Diana S. Nugroho (The Japan Foundation)

Akihiro, seorang bocah di bawah umur (banget) yang terpaksa kehilangan ayahnya karena meninggal setelah terkena radiasi sisa-sia bom atom Hiroshima. Dia terpaksa harus tinggal dengan neneknya di Saga, sebuah kota kecil yang jauh dari Hiroshima. Akihiro mau tidak mau harus hidup miskin dengan neneknya karena kehidupan neneknya satu peringkat lebih miskin daripada kehidupannya di Hiroshima. Namun neneknya selalu punya akal untuk “ngeles” dari kemiskinannya itu.

Neneknya, Osano, mempunyai banyak sekali ide-ide cemerlang untuk “ngeles” dari kemiskinan. Nenek Osano selalu menyeret-nyeret magnet dengan seutas tali yang terikat di pinggangnya agar ketika dia berjalan, dia bisa dapat “oleh-oleh” berupa paku-paku dan besi-besi kecil yang dapat dijualnya. Idenya yang lain adalah “memalangkan” galah di sungai dengan tujuan menggantol barang-barang yang hanyut. Mulai dari sayuran dan buah dari pasar, sampai sepasang sandal kayu yang akhirnya dipakai oleh Akihiro.

Akihiro diceritakan sebagai seorang anak lelaki yang berprestasi di bidang olahraga. Ketika sekolah SD dia disarankan neneknya untuk memilih klub olahraga lari sebagai kegiatan ekstrakulikulernya. Neneknya menyarankan dia untuk ikut lari karena satu hal, olahraga itu tidak butuh alat, cuma butuh tenaga. Tapi tenaga yang digunakan tidak boleh banyak-banyak, karena kalo terlalu banyak nanti lapar, kalau lapar butuh makan, makan harus ngirit, itu kata Nenek Osano, hehehe. Namun selanjutnya Akihiro memilih ikut klub baseball dengan temen-temannya. Lagi-lagi karena terlalu miskin, alat-alat yang dipakai pun sederhana, seperti base-nya pun hanya ditandai dengan rumput yang dicabut.

Buku ini dikisahkan langsung oleh Akihiro, tapi dia pake nama Yoshichi Shimada, entah kenapa saya gak tahu. Karena dikisahkan langsung, jadi buku ini based on true story, di akhir halaman buku ini ada foto Nenek Osano, dan beberapa kutipan kecil yang berisi tips hidup sederhana dari Nenek Osano. Pengen tahu? Baca dong! Bagus lho ceritanya. Lucu, sederhana, dan bisa bikin ketawa sendiri, hehehe.

“Nenek, aku sama sekali tidak mengerti Bahasa Inggris,”
“Kalau begitu, kau tulis saja ‘Aaya orang Jepang.’ ”
“Aku juga tidak suka huruf Kanji…”
“Tulis saja ‘Aku hidup dengan Hiragana dan Katakana.’ ”
“Aku juga benci sejarah…”
“Sejarah juga? Tulis ‘Saya tidak menyukai masa lalu’! ”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s