Tamalsia #2: Masih Bangkok

Cerita sebelumnya di sininull
P1070236

Menginap di Sawasde Inn itu nyaman dan aman. Karena pintu kamar selalu akan terkunci kalau ditutup, sampai-sampai saya kekunci dari luar karena lupa membawa kunci kamar pas ke kamar mandi 😐


Jumat


Sebagai seorang muslim laki-laki yang gahul, saya harus jumatan dong. Jadilah Jumat pagi itu saya gunakan untuk nukar uang dan cari masjid. Menurut buku (buku panduan) yang saya ikuti, masjid terdekat dari tempat menginap saya adalah Masjid Chakrabongse. Peta di buku sih menunjukkan kalau letak masjidnya dekat dan nggak rumit, tapi ternyata tetep dekat tetapi rumit. Masjidnya itu berlokasi di sebuah gang super sempit dan dari jalan raya nggak kelihatan kalau itu gang. Wajarlah saya nggak nemu dengan mulus.


Sesampainya di masjid, saya malah ketemu dua orang mahasiswa Indonesia, mereka sepertinya sepasang kekasih, sepertinya. Namanya Ridho dan Livia, dua mahasiswa IPB angkatan 2008, men seangkatan men, dan belum lulus (waktu itu). Sudah sejak hari Selasa mereka berada di Bangkok, menginap di emperan toko berbekal sleeping bag. Duh dik wani tenan. Kami nggak ngobrol banyak waktu itu, yang jelas tujuan utama mereka adalah nongton Moto GP di Sepang Malaysia.


Selain bertemu Ridho dan Livia, saya juga bertemu Pak Malik seorang marbot masjid dari Pakistan. Tanpa basa-basi, Pak Malik langsung mengajak saya membersihkan masjid untuk persiapan sholat Jumat. Mungkin saya bertampang santri waktu itu, hehehe. Tentu saya bantu dong, sambil berpikir “wah kesempatan nembung nginep di masjid nih :v” Hahaha, setelah meminta izin mau nginap di masjid, tanpa diduga saya malah diajak nginep di rumah beliau. Waha beruntung sekali saya, langsung deh saya check out dari Sawasde inn, lalu check in di rumah Pak Malik.

Jumat siang, sebelum sholat Jumat Pak Malik mendapat kabar bahwa ada orang Pakistan yang meninggal dunia. Saya pun diajak untuk takziah. Hmm.. niatnya mau wisata malah diajak takziah, mau tak mau saya ikut dong. Lagian malah bisa jadi pengalaman unik kan? hehehe. FYI, jenazahnya akan dikirim ke Pakistan saat itu juga. Jadi setelah sholat Jumat persis, jenazah langsung disholati kemudian “dikemas” untuk selanjutnya dikirim ke Pakistan. Sholat jumat di sana unik, bilingual. Jadi khotbah pertama pakai bahasa Inggris, kemudian khotbah kedua dalam bahasa Thailand. Ping pong tong seng lau tse.


Sabtu


Jumat malamnya saya berdiskusi panjang lebar sama Pak Malik membahas Islam di Eropa, orang Indonesia, orang Pakistan, di Pakistan ada salju atau tidak, cara ke Indonesia, sampai saya harus pamer tulisan Jawa untuk membuktikan keragaman Indonesia. Paginya saya mau pergi jalan ke Grand Palace dan sekitarnya.


Pergi ke Grand Palace dari rumah Pak Malik tidaklah rumit, cukup jalan lurus aja sampai Grand Palace. Sekitar 30 menit berjalan kaki dan berpeluh ria, panas men, saya sampai di Grand Palace dan langsung berlagak sok orang Thailand. FYI, kalau kamu berkunjung ke Grand Palace dan kamu yakin bahwa wajahmu Thailand banget. Maka masuklah lewat pintu orang Thailand, gratis! Kalau masuk lewat pintu turis, kamu harus bayar cukup mahal, apalagi bagi traveler kere kayak saya, hehehe.


P1070227
Capek muter-muter di Grand Palace, saya pun pulang lalu mandi lalu berpamitan sama Pak Malik karena hari itu saya harus melanjutkan perjalanan ke selatan, Phuket. Saya memilih untuk naik kereta api daripada naik bus, karena lebih murah dan lebih epic.


P1070267
Ada kejadian lucu ketika saya beli tiket kereta, saya belinya tiket kereta ekonomi ke Surathani. Berikut percakapan dengan embak-embak ticket box.


R: Saya
E: Embak-embak

R: “One ticket to Surathani please. Economy. How much?”
E: “Economy ticket is xxx Bath”
R: “Ok, I take it. Btw, how can I go to Phuket?” Sambil ngambil duit ma bayar tiket
E: “You can use bat, sir”
R: “Ya I know, I must use bath. How can go to Phuket?”
E: “Use bat, sir”
R: “Ya I use bath” Saya kira saya disuruh pakai mata uang bath untuk membayar 
E: “I mean you can go to Phuket by bat from Surathani, sir”
R: “Ah.. I know, ok thanks for the info” Langsung ngacir hehehe. Si embaknya kurang fasih mengucapkan “bas” (bus).

Bukan Rahmanu kalau nggak nge-unik ketika bepergian. Ya, saya mengaku kalau saya salah naik gerbong. Saya malah naik gerbong kelas bisnis. Pantas saja nyaman hahaha. Selanjutnya saya Cuma tidur-melek-tidur-melek. Dan buku satu-satunya yang saya bawa, habis terbaca selama perjalanan di kereta, fak. Itu semua karena saya gak bisa bahasa Thailand, jadilah saya nggak bisa ngobrol dengan penumpang yang lain.


Yah begitulah lika-liku perjalanan saya ketika di Bangkok. Next destination, Phuket!

 

Salam,

Rahmanu

2 thoughts on “Tamalsia #2: Masih Bangkok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s