Tamalsia #3: Phuket

Perjalanan malam yang panjang menggunakan kereta api dari Bangkok menuju Surathani sangat membosankan. Apalagi saya duduk di gerbong yang isinya cumang orang-orang lokal, alias orang Thailand yang nggak bisa berbahasa Inggris. Jadilah saya cumang membaca buku, cengar-cengir, dan tidur tentunya. Karena ketika kita naik kereta malam, kita sedang melewati area in the middle of nowhere -.-

Pagi-pagi, entah jam berapa saya lupa, kereta api yang saya tumpangi mendarat dengan asyik di Stasiun Surathani. Saya pun langsung turun kereta lalu keluar stasiun untuk celingukan, tetapi sebelumnya saya melakukan aktifitas pagi-rutin, yaitu BAB, sikat gigi, dan cuci muka.

Celingak-celinguk kanan-kiri mencari agen bus menuju Phuket terbilang agak tricky, soalnya takut ketipu sama agen abal-abal. Tetapi akhirnya saya dapat sebuah bus bertempat duduk 2-2 dengan sebelah saya seorang instruktur diver profesional, asal negaranya lupa. Sepanjang jalan yang isinya pohon dan rumah itu, saya dipamerin tempat-tempat yang pernah dia selami. Dalam hati, saya cumang mbatin mbok aku diajak, diajarin, dan dibayarin, mbak hahaha.

Bus yang saya tumpangi mendarat di Phuket pada sore hari. Sesuai petunjuk yang ada di buku panduan yang saya acu, saya harus berjalan kaki agak jauh untuk menuju komplek penginapan. Oke, sebagai pejalan-jalan yang kuat, saya ikutin dong bukunya. Saya berjalan-jalan-jalan sampai pegal dan akhirnya mampir beli minum sambil bertanya dimanakah komplek menginapnya. Si bapak penjual pun menjawab dengan cengar-cengir, “oh masih jauh, sekitar 2 km lagi dari sini. FYI, terminal Phuket pindah, jadi jarak antara terminal ke komplek penginapan sekarang sangat jauh.” Hmmm, oke fine! Saya cari ojek.

Saya diturunkan di sebuah penginapan dengan judul Backpacker Hostel, tarif menginap di sini 350 B. Mahal sih, tapi rela bagi-bagi? Eh maksud saya itu sebanding dengan isinya dan tentunya saya sudah capek muter-muter lagi. Lebih baik waktu yang ada saya pakai untuk ke pantai Phuket. Tetapi akhirnya saya nggak jadi ke pantai Phuket, karena kesorean dan males mikir cara balik ke hostel -.-

Ya ya ya, sebagai gantinya saya hanya muter-muter Phuket Oldtown yang kecil itu dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan saya melihat bangunan-bangunan kuno dengan nuansa China ada dimana-mana. Mulai restoran, cafe, sampai rumah tinggal semuanya merupakan bangunan tua yang seperti kalau di Kota Lama Semarang atau Kota Tua Jakarta. Fifty-fifty lah. Oya dalam perjalanan pulang, saya pun bertemu rombongan turis Korea yang sedang muter-muter Oldtown juga. Nampaknya mereka gumun dengan bangunan yang ada. Saya sih biasa aja.

Niatnya sih dalam perjalanan pulang sekalian mampir beli makanan untuk makan malam. Pengen yang khas Phuket gitu. Tetapi kok nggak yakin dengan ke-halal-annya. Jadilah saya malam itu makan keripik kentang dan susu milo yang saya beli dari 7-11. Keduanya ada logo halal-nya, makanya saya berani beli 

Perjalanan di Phuket ini sebenarnya bisa dibilang fail. Karena saya nggak ke pantai. Mana ada traveler yang ke phuket tapi tidak ke pantai? 😐

Sudah malam, ikan bobok..
Next destination: Krabi!

Oya, kalau ada yang mau minta itenerary, silakan email saja ya. Nanti saya kasih, geratis!

Jalanan Phuket
Jalanan Phuket

 

Naga Phuket
Naga Phuket
Makan malam
Makan malam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s